Sabtu, 25 Juni 2016

IT Forensik dan Penggunaannya

ABSTRAK
IT forensik atau kadang disebut komputer forensik yaitu ilmu yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan. Kegiatan forensik komputer sendiri adalah suatu proses mengidentifikasi, memelihara, menganalisa, dan mempergunakan bukti digital menurut hukum yang berlaku. IT Forensik dibutuhkan untuk pengumpulan bukti dan fakta karena adanya tindakan kejahatan pelanggaran keamanan sistem informasi oleh para cracker atau cybercrime. Dengan menjaga bukti digital tetap aman dan tidak berubah, maka kasus hukum akan mudah diselesaikan.
Kata kunci : IT, Forensik, Audit, Komputer

PENDAHULUAN
Perkembangan dunia IT yang sangat cepat telah melahirkan dimensi lain dari teknologi, yaitu kejahatan dengan peran computer sebagai alat utamanya. Istilah yang populer untuk modus ini disebut dengan cybercrime. Adanya kecenderungan negative dari teknologi computer tersebut telah memunculkan berbagai permasalahan baru. Bertahun tahun yang lalu, kebanyakan bukti dikumpulkan pada kertas. Saat ini, kebanyakan bukti bertempat pada komputer, membuatnya lebih rapuh, karena sifat alaminya. Oleh karena itu, IT forensik atau bisa juga disebut Digital Forensik. berperan dalam menindak lanjuti kejahatan dalam komputer. IT forensik akan mengamankan dan menganalisa bukti digital dengan cara menjabarkan keadaan terkini dari suatu artefak digital. Ilmu Pengetahuan ini masih sangat baru di Indonesia sehingga seorang ahli atau profesional dalam bidang Digital Forensik masih sangat sedikit. Oleh sebab itu, sebagai orang awam yang masih belum mengetahui betul, apa sebenarnya IT Forensik akan dibahas selanjutnya dalam jurnal ini.

PEMBAHASAN
1.    IT Forensik
IT Forensik merupakan ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya menurut metode yang digunakan.  Dengan kata lain  IT Forensik merupakan cabang dari ilmu komputer tetapi menjurus ke bagian forensik yaitu berkaitan dengan bukti hukum yang ditemukan di komputer dan media penyimpanan digital. Komputer forensik juga dikenal sebagai Digital Forensik yang terdiri dari aplikasi dari ilmu pengetahuan kepada indetifikasi, koleksi, analisa, dan pengujian dari bukti digital. IT Forensik merupakan penggunaan sekumpulan prosedur untuk melakukan pengujian secara menyeluruh suatu sistem komputer dengan mempergunakan software dan tool untuk mengumpulkan fakta dan memelihara barang bukti tindakan kriminal. Fakta-fakta tersebut setelah diverifikasi akan menjadi bukti-bukti yang akan digunakan dalam proses selanjutnya. Selain itu juga diperlukan keahlian dalam bidang IT ( termasuk diantaranya hacking) dan alat bantu (tools) baik hardware maupun software untuk membuktikan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam bidang teknologi sistem informasi tersebut. IT forensik dapat menjelaskan keadaan artefak digital terkini. Artefak Digital dapat mencakup sistem komputer, media penyimpanan (seperti hard disk atau CD-ROM, dokumen elektronik (misalnya pesan email atau gambar JPEG) atau bahkan paket-paket yang secara berurutan bergerak melalui jaringan. Bidang IT Forensik juga memiliki cabang-cabang di dalamnya seperti firewall forensik, forensik jaringan , database forensik, dan forensik perangkat mobile.
Berikut beberapa pengertian IT forensik menurut para ahli:
1)   Menurut Ruby Alamsyah, salah seorang ahli forensik IT Indonesia: “Digital forensik atau terkadang disebut komputer forensik adalah ilmu yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan. Barang bukti digital tersebut termasuk handphone, notebook, server, alat teknologi apapun yang mempunyai media penyimpanan dan bisa dianalisa.”
2)   Menurut Noblett, seorang ahli komputer forensik: “Berperan untuk mengambil, menjaga, mengembalikan, dan menyajikan data yang telah diproses secara elektronik dan disimpan di media komputer.”
3)   Menurut Judd Robin, seorang ahli komputer forensik: “Penerapan secara sederhana dari penyelidikan komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin”
4)   New Technologies memperluas definisi Robin dengan: “Komputer forensik berkaitan dengan pemeliharaan, identifikasi, ekstraksi dan dokumentasi dari bukti-bukti komputer yang tersimpan dalam wujud-informasi-magnetik”.

Berdasarkan penjelasan tersebut, beberapa alasan mengapa perlunya menggunakan IT forensik dalam menangani tindak kejahatan komputer:
1)   Dalam kasus hukum, teknik digital forensik sering digunakan untuk meneliti sistem komputer milik terdakwa (dalam perkara pidana) atau tergugat (dalam perkara perdata).
2)   Memulihkan data dalam hal suatu hardware atau software mengalami kegagalan/kerusakan (failure).
3)   Meneliti suatu sistem komputer setelah suatu pembongkaran/ pembobolan, sebagai contoh untuk menentukan bagaimana penyerang memperoleh akses dan serangan apa yang dilakukan.
4)   Mengumpulkan bukti menindak seorang karyawan yang ingin diberhentikan oleh suatu organisasi.
5)   Memperoleh informasi tentang bagaimana sistem komputer bekerja untuk tujuan debugging, optimisasi kinerja, atau membalikkan rancang-bangun.

2.    Tujuan IT Forensik
Tujuan IT forensik adalah sebagai berikut:
1)   Untuk membantu memulihkan, menganalisa, dan mempresentasikan materi/entitas berbasis digital atau elektronik sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan sebagai alat buti yang sah di pengadilan.
2)   Untuk mendukung proses identifikasi alat bukti dalam waktu yang relatif cepat, agar dapat diperhitungkan perkiraan potensi dampak yang ditimbulkan akibat perilaku jahat yang dilakukan oleh kriminal terhadap korbannya, sekaligus mengungkapkan alasan dan motivitasi tindakan tersebut sambil mencari pihak-pihak terkait yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan perbuatan tidak menyenangkan dimaksud.
3)   Mendapatkan fakta-fakta obyektif dari sebuah insiden / pelanggaran keamanan sistem informasi. Fakta-fakta tersebut setelah diverifikasi akan menjadi bukti-bukti (evidence) yang akan digunakan dalam proses hukum.
4)   Mengamankan dan menganalisa bukti digital. Dari data yang diperoleh melalui survey oleh FBI dan The Computer Security Institute, pada tahun 1999 mengatakan bahwa 51% responden mengakui bahwa mereka telah menderita kerugian terutama dalam bidang finansial akibat kejahatan komputer.
5)   Untuk menjelaskan keadaan artefak digital terkini. Artefak Digital dapat mencakup sistem komputer, media penyimpanan (seperti hard disk atau CD-ROM), dokumen elektronik (misalnya pesan email atau gambar JPEG) atau bahkan paket-paket yang secara berurutan bergerak melalui jaringan. Bidang IT forensik juga memiliki cabang-cabang di dalamnya seperti firewall forensik, forensik jaringan, database forensik, dan forensik perangkat mobile.

3.    Prosedur IT Forensik
Prosedur forensik yang umum digunakan, antara lain:
1)   Membuat copies dari keseluruhan log data, file, dan lain-lain yang dianggap perlu pada suatu media yang terpisah.
2)   Membuat copies secara matematis.
3)   Dokumentasi yang baik dari segala sesuatu yang dikerjakan.
4)   Bukti yang digunakan dalam IT Forensics berupa: Harddisk.Floopy disk atau media lain yang bersifat removeable.
5)   Network system.
6)   Metode/prosedure IT Forensik yang umum digunakan pada komputer ada dua jenis, yaitu:
A.  Search dan seizure: dimulai dari perumusan suatu rencana.
a.    Identifikasi dengan penelitian permasalahan.
b.    Membuat hipotesis.
c.    Uji hipotesa secara konsep dan empiris.
d.   Evaluasi hipotesa berdasarkan hasil pengujian dan pengujian ulang jika hipotesa tersebut jauh dari apa yang diharapkan.
e.    Evaluasi hipotesa terhadap dampak yang lain jika hipotesa tersebut dapat diterima.
B.  Pencarian informasi (discovery information). Ini dilakukan oleh investigator dan merupakan pencarian bukti tambahan dengan mengendalikan saksi secara langsung maupun tidak langsung.
a.    Membuat copies dari keseluruhan log data, files, dan lain-lain yang dianggap perlu pada media terpisah.
b.    Membuat fingerprint dari data secara matematis.
c.    Membuat fingerprint dari copies secara otomatis.
d.   Membuat suatu hashes masterlist
e.    Dokumentasi yang baik dari segala sesuatu yang telah dikerjakan.

4.    Tools IT Forensik
Tools IT Forensik yang umum digunakan, antara lain:
1)        Antiword
Antiword merupakan sebuah aplikasi yang digunakan untuk menampilkan teks dan gambar dokumen Microsoft Word. Antiword hanya mendukung dokumen yang dibuat oleh MS Word versi 2 dan versi 6 atau yang lebih baru.
2)        Autopsy
The Autopsy Forensic Browser merupakan antarmuka grafis untuk tool analisis investigasi diginal perintah baris The Sleuth Kit. Bersama, mereka dapat menganalisis disk dan filesistem Windows dan UNIX (NTFS, FAT, UFS1/2, Ext2/3).
3)        Binhash
Binhash merupakan sebuah program sederhana untuk melakukan hashing terhadap berbagai bagian file ELF dan PE untuk perbandingan. Saat ini ia melakukan hash terhadap segmen header dari bagian header segmen obyek ELF dan bagian segmen header obyekPE.
4)        Sigtool
Sigtcol merupakan tool untuk manajemen signature dan database ClamAV. sigtool dapat digunakan untuk rnenghasilkan checksum MD5, konversi data ke dalam format heksadesimal, menampilkan daftar signature virus dan build/unpack/test/verify database CVD dan skrip update.
5)        ChaosReader
ChaosReader merupakan sebuah tool freeware untuk melacak sesi TCP/UDP/… dan mengambil data aplikasi dari log tcpdump. la akan mengambil sesi telnet, file FTP, transfer HTTP (HTML, GIF, JPEG,…), email SMTP, dan sebagainya, dari data yang ditangkap oleh log lalu lintas jaringan. Sebuah file index html akan tercipta yang berisikan link ke seluruh detil sesi, termasuk program replay realtime untuk sesi telnet, rlogin, IRC, X11 atau VNC; dan membuat laporan seperti laporan image dan laporan isi HTTP GET/POST.
6)        Chkrootkit
Chkrootkit merupakan sebuah tool untuk memeriksa tanda-tanda adanya rootkit secara lokal. la akan memeriksa utilitas utama apakah terinfeksi, dan saat ini memeriksa sekitar 60 rootkit dan variasinya.
7)        Dcfldd
Tool ini mulanya dikembangkan di Department of Defense Computer Forensics Lab (DCFL). Meskipun saat ini Nick Harbour tidak lagi berafiliasi dengan DCFL, ia tetap memelihara tool ini.
8)        Ddrescue
GNU ddrescue merupakan sebuah tool penyelamat data, la menyalinkan data dari satu file atau device blok (hard disc, cdrom, dsb.) ke yang lain, berusaha keras menyelamatkan data dalam hal kegagalan pembacaan. Ddrescue tidak memotong file output bila tidak diminta. Sehingga setiap kali anda menjalankannya kefile output yang sama, ia berusaha mengisi kekosongan.
9)        Foremost
Foremost merupakan sebuah tool yang dapat digunakan untuk me-recover file berdasarkan header, footer, atau struktur data file tersebut. la mulanya dikembangkan oleh Jesse Kornblum dan Kris Kendall dari the United States Air Force Office of Special Investigations and The Center for Information Systems Security Studies and Research. Saat ini foremost dipelihara oleh Nick Mikus seorang Peneliti di the Naval Postgraduate School Center for Information Systems Security Studies and Research.
10)    Gqview
Gqview merupakan sebuah program untuk melihat gambar berbasis GTK la mendukung beragam format gambar, zooming, panning, thumbnails, dan pengurutan gambar.
11)    Galleta
Galleta merupakan sebuah tool yang ditulis oleh Keith J Jones untuk melakukan analisis forensic terhadap cookie Internet Explorer.
12)    Ishw
Ishw (Hardware Lister) merupakan sebuah tool kecil yang memberikan informasi detil mengenai konfigurasi hardware dalam mesin. la dapat melaporkan konfigurasi memori dengan tepat, versi firmware, konfigurasi mainboard, versi dan kecepatan CPU, konfigurasi cache, kecepatan bus, dsb. pada sistem t>MI-capable x86 atau sistem EFI.
13)    Pasco
Banyak penyelidikan kejahatan komputer membutuhkan rekonstruksi aktivitas Internet tersangka. Karena teknik analisis ini dilakukan secara teratur, Keith menyelidiki struktur data yang ditemukan dalam file aktivitas Internet Explorer (file index.dat). Pasco, yang berasal dari bahasa Latin dan berarti “browse”, dikembangkan untuk menguji isi file cache Internet Explorer. Pasco akan memeriksa informasi dalam file index.dat dan mengeluarkan hasil dalam field delimited sehingga dapat diimpor ke program spreadsheet favorit Anda.
14)    Scalpel
Scalpel adalah sebuah tool forensik yang dirancang untuk mengidentifikasikan, mengisolasi dan merecover data dari media komputer selama proses investigasi forensik. Scalpel mencari hard drive, bit-stream image, unallocated space file, atau sembarang file komputer untuk karakteristik, isi atau atribut tertentu, dan menghasilkan laporan mengenai lokasi dan isi artifak yang ditemukan selama proses pencarian elektronik. Scalpel juga menghasilkan (carves) artifak yang ditemukan sebagai file individual.

5.    Pengetahuan yang diperlukan ahli IT Forensik
Seperti ahli forensik dalam kasus tindak kriminal, tindak kejahatan di dunia IT pun juga memerlukan seoarang ahli forensik komputer. Berikut ini terdapat beberapa pengetahuan dan kriteria yang diperlukan untuk menjadi seorang ahli forensik. Pengetahuan yang diperlukan ahli forensik di antaranya:
1)        Dasar-dasar hardware dan pemahaman bagaimana umumnya sistem operasi bekerja.
2)        Bagaimana partisi drive, hidden partition, dan di mana tabel partisi bisa ditemukan pada sistem operasi yang berbeda.
3)        Bagaimana umumnya master boot record tersebut dan bagaimana drive geometry.
4)        Pemahaman untuk hide, delete, recover file dan directory bisa mempercepat pemahaman pada bagaimana tool forensik dan sistem operasi yang berbeda bekerja.Familiar dengan header dan ekstension file yang bisa jadi berkaitan dengan file tertentu. Kriteria ahli forensik berikut ini dijelaskan oleh Peter Sommer dari Virtual City Associates Forensic Technician , serta Dan Farmer dan Wietse Venema.
5)        Metode yang berhati-hati pada pendekatan pencatatan rekaman.
6)        Pengetahuan komputer, hukum, dan prosedur legal.
7)        Keahlian untuk mempergunakan utility.
8)        Kepedulian teknis dan memahami implikasi teknis dari setiap tindakan.
9)        Penguasaan bagaimana modifikasi bisa dilakukan pada data.
10)    Berpikiran terbuka dan mampu berpandangan jauh.
11)    Etika yang tinggi.
12)    Selalu belajar.
13)    Selalu mempergunakan data dalam jumlah redundan sebelum mengambil kesimpulan.

6.    Aktivitas Ahli Forensik
Aktivitas yang perlu dilakukan oleh penyelidik forensik menurut Judd Robins:
1)   Perlindungan sistem komputer selama pengujian forensik dari semua kemungkinan perubahan, kerusakan, korupsi data, atau virus.
2)   Temukan semua file pada sistem. Termasuk file normal, terhapus, hiden, pasword-protected, dan terenkripsi.
3)   Recovering file terhapus sebisa mungkin.
4)   Ambil isi file hidden juga file temporary atau swap yang dipergunakan baik oleh sistem operasi atau program aplikasi.
5)   Lakukan akses (jika dimungkinkan secara legal) isi dari file terproteksi atau terenkripsi.
6)   Analisa semua data yang relevan pada area spesial di disk. Misal unnalocated (tidak terpakai, tapi mungkin menyimpan data sebelumnya), slack space (area di akhir file pada last cluster yang mungkin menyimpan data sebelumnya juga).
7)   Cetak semua analisis keseluruhan dari sistem komputer, seperti halnya semua file yang relevan dan ditemukan. Berikan pendapat mengenai layout sistem, struktur file yangmditemukan, dan informasi pembuat, setiap usaha menyembunyikan, menghapus, melindungi, mengenkripsi informasi, dan lainnya yang ditemukan dan nampak relevan dengan keseluruhan pengujian sistem komputer.
8)   Berikan konsultasi ahli dan kesaksian yang diperlukan.

Karakteristik berikut diperlukan oleh seorang ahli forensik untuk bekerja secara professional:
1)   Pendidikan, pengalaman dan sertifikasi merupakan kualifikasi yang baik untuk profesi komputer forensik. Pendidikan dengan pengalaman memberikan kepercayaan yang diperlukan untuk membuat keputusan dan mengetahui keputusan yang tepat. Sertifikasi menunjukkan bahwa pendidikan dan pengalamannya merupakan standar yang tinggi dan dapat dipahami.
2)   Yakinkan pada setiap tindakan dan keputusan, agar mencukupi untuk kesaksian di pengadilan.
3)   Semua proses dilakukan dengan menyeluruh.
4)   Memiliki pengetahuan yang banyak mengenai bagaimana recover data dari berbagai tipe media.
5)   Mampu memecah password dari aplikasi dan sistem operasi yang berbeda dan mempergunakannya untuk penyelidikan.
6)   Perlu pengetahuan yang memadai, tanpanya bisa terjadi kesalahan yang akan membuat barang bukti ditolak di pengadilan. Barang bukti bisa dirusak, diubah, atau informasi yang berharga terlewat.
7)   Obyektif dan tidak bias, harus fair pada penyelidikan, dengan fakta yang akurat dan lengkap.
8)   Inovatif dan memiliki kemampuan interpersonal yang baik, seperti:
a.    Memiliki kemampuan verbal dan oral yang baik
b.    Menggunakan penalaran dan logika yang tepat

7.    Undang- Undang IT Forensik
Secara umum, materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik dan pengaturan mengenai perbuatan yang dilarang. Pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik mengacu pada beberapa instrumen internasional, seperti UNCITRAL Model Law on eCommerce dan UNCITRAL Model Law on eSignature. Bagian ini dimaksudkan untuk mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet dan masyarakat umumnya guna mendapatkan kepastian hukum dalam melakukan transaksi elektronik. Beberapa materi yang diatur, antara lain:
1)   Pengakuan informasi/dokumen elektronik sebagai alat bukti hukum yang sah (Pasal 5 & Pasal 6 UU ITE);
2)   Tanda tangan elektronik (Pasal 11 & Pasal 12 UU ITE);
3)   Penyelenggaraan sertifikasi elektronik (certification authority, Pasal 13 & Pasal 14 UU ITE);
4)   Penyelenggaraan sistem elektronik (Pasal 15 & Pasal 16 UU ITE); Beberapa materi perbuatan yang dilarang (cybercrimes) yang diatur dalam UU ITE, antara lain:
a.    Konten ilegal, yang terdiri dari, antara lain: kesusilaan, perjudian, penghinaan/pencemaran nama baik, pengancaman dan pemerasan (Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 UU ITE);
b.    Akses ilegal (Pasal 30);
c.    Intersepsi ilegal (Pasal 31);
d.   Gangguan terhadap data (data interference, Pasal 32 UU ITE);
e.    Gangguan terhadap sistem (system interference, Pasal 33 UU ITE);
f.     Penyalahgunaan alat dan perangkat (misuse of device, Pasal 34 UU ITE);

Sumber:

http://muhammadputraaa.blogspot.co.id/2015/07/jurnal-it-forensik-dan-penggunaannya.html

Jumat, 03 Juni 2016

Constructive Cost Model (COCOMO)

COCOMO adalah singkatan dari Constructive Cost Model yang merupakan sebuah kombinasi dari estimasi parameter persamaan dan metode pembobotan. Satu hasil observasi yang paling penting dalam model ini adalah bahwa motivasi dari tiap orang yang terlibat ditempatkan sebagai titik berat. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dan kerja sama tim merupakan sesuatu yang penting, namun demikian poin pada bagian ini sering diabaikan. COCOMO adalah model terbuka, sehingga semua detail dipublikasikan, termasuk : Dasar persamaan perkiraan biaya, Setiap asumsi yang dibuat dalam model, Setiap definisi, serta Biaya yang disertakan dalam perkiraan dinyatakan secara eksplisit.
Sejarah Singkat Constructive Cost Model (COCOMO) COCOMO pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 Barry Boehm W.'s Book ekonomi Software engineering sebagai model untuk memperkirakan usaha, biaya, dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada studi dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode, dan bahasa pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I. Proyek-proyek ini didasarkan pada model pengembangan perangkat lunak waterfall yang merupakan proses software umum pembangunan di 1981.

Jenis-Jenis Constructive Cost Model (COCOMO)
Terdapat jenis-jenis COCOMO yang saat ini masih digunakan dalam perkembangan software engineering untuk memperkirakan usaha, biaya, dan jadwal untuk proyeknya. Diantaranya sebagai berikut:
·      Model Dasar COCOMO (Basic COCOMO)
Jenis Dasar COCOMO menggunakan estimasi parameter persamaan (dibedakan menurut tipe sistem yang berbeda) upaya pengembangan dan pembangunan durasi dihitung berdasarkan perkiraan DSI. Dengan rincian untuk fase ini diwujudkan dalam persentase. Dalam hubungan ini dibedakan menurut tipe sistem (organik-batch, sebagian bersambung-on-line, embedded-real-time) dan ukuran proyek (kecil, menengah, sedang, besar, sangat besar). Model COCOMO dapat diaplikasikan dalam tiga tingkatan kelas:
1.   Proyek organik (organic mode) Adalah proyek dengan ukuran relatif kecil, dengan anggota tim yang sudah berpengalaman, dan mampu bekerja pada permintaan yang relatif fleksibel.
2.  Proyek sedang (semi-detached mode) Merupakan proyek yang memiliki ukuran dan tingkat kerumitan yang sedang, dan tiap anggota tim memiliki tingkat keahlian yang berbeda.
3.      Proyek terintegrasi (embedded mode)Proyek yang dibangun dengan spesifikasi dan operasi yang ketat.
Model COCOMO dasar ditunjukkan dalam persamaan berikut ini:


Keterangan:
E          = besarnya usaha (orang-bulan)
D         = lama waktu pengerjaan (bulan)
KLOC = estimasi jumlah baris kode (ribuan)
P          = jumlah orang yang diperlukan

·      Model COCOMO Lanjut (Intermidate COCOMO)
Pengembangan model COCOMO ini dengan menambahkan atribut yang dapat menentukan jumlah biaya dan tenaga dalam pengembangan perangkat lunak, yang dijabarkan dalam kategori dan subkatagori sebagai berikut:
1.      Atribut produk (product attributes)
Kategori ini terdiri dari sub kategori antara lain: Reliabilitas perangkat lunak yang diperlukan (RELY), Ukuran basis data aplikasi (DATA), serta Kompleksitas produk (CPLX).
2.      Atribut perangkat keras (computer attributes)
Kategori ini terdiri dari sub kategori: Waktu eksekusi program ketika dijalankan (TIME), Memori yang dipakai (STOR), Kecepatan mesin virtual (VIRT), Waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi perintah (TURN).
3.      Atribut sumber daya manusia (personnel attributes)
Kategori ini berisikan sub kategori: Kemampuan analisis (ACAP), Kemampuan ahli perangkat lunak (PCAP), Pengalaman membuat aplikasi (AEXP), Pengalaman penggunaan mesin virtual (VEXP), Pengalaman dalam menggunakan bahasa pemrograman (LEXP).
4.      Atribut proyek (project attributes)
Mempunyai sub kategori antara lain: Penggunaan sistem pemrograman modern(MODP), Penggunaan perangkat lunak (TOOL), Jadwal pengembangan yang diperlukan (SCED).

·      Model COCOMO II (Complete atau Detailed COCOMO Model)
Pada awal desainnya terdiri dari 7 bobot pengali yang relevan dan kemudian menjadi 16 yang dapat digunakan pada arsitektur terbarunya. Sama seperti COCOMO Intermediate (COCOMO81), masing-masing sub katagori bisa digunakan untuk aplikasi tertentu pada kondisi very low, low, manual, nominal, high maupun very high.
Masing-masing kondisi memiliki nilai bobot tertentu. Nilai yang lebih besar dari 1 menunjukkan usaha pengembangan yang meningkat, sedangkan nilai di bawah 1 menyebabkan usaha yang menurun. Kondisi Laju nominal (1) berarti bobot pengali tidak berpengaruh pada estimasi. Maksud dari bobot yang digunakan dalam COCOMO II, harus dimasukkan dan direfisikan di kemudian hari sebagai detail dari proyek aktual yang ditambahkan dalam database.

Sumber:

http://uzi-online.blogspot.co.id/2013/04/pengenalan-constructive-cost-model-atau-cocomo.html

Kamis, 02 Juni 2016

Metode dan Sistem Untuk Mengelola Proyek Teknologi Informasi

Nomor Publikasi                                 US20020059512 A1
Jenis Publikasi                                     Aplikasi
Nomor Aplikasi                                   US 09/977,284
Tanggal Publikasi                                16 Mei 2002
Tanggal Pengajuan                              16 Oktober 2001
Tanggal Prioritas                                 16 Oktober 2000
Penemu                                                Lisa Desjardins
Penerima Asli                                      Lisa Desjardins

ABSTRAK
Sebuah proses terstruktur untuk mengembangkan sebuah proyek untuk mengelola proyek teknologi informasi meliputi serangkaian langkah pokok, yang masing-masing mencakup satu atau lebih substeps. Langkah-langkah utama meliputi: (1) menilai kelayakan proyek untuk menentukan apakah akan melanjutkan proyek tersebut; (2) melakukan analisis proyek awal untuk menentukan kebutuhan fungsional proyek; (3) merancang produk IT; (4) membangun produk IT; (5) pengujian produk IT; (6) menerapkan produk IT; dan (7) penutupan-out proyek TI, termasuk mengevaluasi proyek. Sebuah metode juga disediakan untuk menyediakan, mengakses dan menggunakan proses terstruktur. Metode ini dapat diimplementasikan dengan menggunakan teknologi komputer dengan menyimpan informasi mengenai proses terstruktur dalam database dan menggunakan komputer (atau jaringan komputer) untuk mengakses dan memanfaatkan informasi. Komputer mungkin termasuk perangkat output untuk menyajikan informasi mengenai status proses terstruktur, termasuk indikasi tingkat penyelesaian setiap langkah pokok.

LATAR BELAKANG PENEMUAN
Penemuan ini berhubungan dengan suatu metode dan sistem untuk mengelola teknologi informasi (TI) proyek. Secara khusus, penemuan ini berhubungan dengan metode dan sistem untuk mengelola proyek TI menggunakan teknik terstruktur termasuk beberapa langkah.
Laju kemajuan teknologi membutuhkan sebuah organisasi untuk secara berkala memperbarui sumber daya teknologi informasi. teknologi informasi (umumnya dikenal sebagai IT) secara umum berkaitan dengan sistem, peralatan dan atau perangkat lunak yang digunakan untuk menyimpan, mengambil, transfer, proses dan atau membuat data. Misalnya, sumber daya organisasi TI dapat mencakup sistem jaringan dan layanan (misalnya, intranet, internet, dll), sistem manajemen database dan layanan, sistem e-commerce dan layanan, sistem administrasi dan layanan (misalnya, sistem dan jasa akuntansi), dan lain-lain.
Banyak organisasi pendekatan tugas mengembangkan produk IT secara ad hoc. Pendekatan ini biasanya melibatkan dengan cepat membuat perubahan ke sistem, mengamati dampak dari perubahan, dan kemudian mengambil tindakan korektif yang diperlukan. Tergantung pada besarnya proyek, beberapa organisasi mungkin mencoba untuk merencanakan proyek IT dengan mendefinisikan fase yang berbeda dari proyek, mengidentifikasi kendala anggaran, dan merumuskan kerangka waktu untuk menyelesaikan fase yang berbeda dari proyek.
Tidak mengherankan, pendekatan informal untuk proyek TI dapat mengalami kesulitan. Misalnya, pendekatan terstruktur untuk proyek-proyek TI dapat mengakibatkan tidak efisien (misalnya, non-optimal) sequencing tugas dalam proyek. Pendekatan terstruktur lanjut dapat mengakibatkan komunikasi yang tidak memadai instruksi untuk proyek peserta. Selanjutnya, pendekatan terstruktur dapat mengakibatkan kegagalan untuk memperoleh persetujuan yang diperlukan dari bisnis dan teknologi sektor yang sesuai dalam organisasi. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan peningkatan biaya dalam mengembangkan produk IT, penundaan dalam memberikan produk IT, dan atau standar kualitas dari produk IT itu sendiri. Dalam kasus ekstrim, pendekatan terstruktur dapat menyebabkan kegagalan akhir proyek.
Lebih lanjut lagi, pendekatan terstruktur menyediakan tidak ada mekanisme untuk mengidentifikasi mengapa sebuah proyek telah berhasil atau gagal. Dengan demikian, proyek-proyek masa depan mungkin gagal untuk menggabungkan fitur proyek yang telah bermanfaat dalam proyek-proyek sebelumnya. Di sisi lain, proyek-proyek masa depan tanpa sadar mungkin mengulangi fitur proyek yang telah menyebabkan masalah di proyek sebelumnya.
Seperti dijelaskan di atas, beberapa organisasi telah berusaha untuk "mengelolanya" proyek dengan menciptakan rencana proyek. Namun demikian, rencana tersebut umumnya dikembangkan dari "awal" untuk setiap itu proyek berdasarkan kebutuhan unik masing-masing proyek itu. Dengan demikian, rencana khusus aplikasi ini tidak mudah meminjamkan diri pada adaptasi terhadap proyek-proyek lainnya. Ini lebih lanjut hasil dalam tidak efisien penggunaan sumber daya manusia dalam penyerahan itu produk, seperti produk kerja proyek-proyek sebelumnya tidak mudah dapat diterapkan pada proyek-proyek baru.
Literatur paten dan teknis tidak cukup alamat masalah diatas. Sejumlah paten diarahkan untuk menyediakan alat komputerisasi untuk membantu pengguna dalam manajemen proyek. Sebagai contoh, U.S. Pat. No. 6,036,345 menggambarkan desain dan rekayasa sistem manajemen proyek. Sistem ini meliputi logika untuk mengidentifikasi tujuan produk secara keseluruhan dan tujuan kelompok yang berkaitan dengan subsistem atau komponen produk secara keseluruhan. Komputer tambahan termasuk logika untuk menampilkan tujuan secara keseluruhan dan tujuan kelompok dalam pluralitas jendela grafis yang dapat diambil oleh pengguna. Sistem ini juga mencakup logika untuk mengidentifikasi satu atau beberapa strategi untuk mencapai tujuan kelompok, dan untuk menyajikan strategi dalam bentuk grafis yang memungkinkan untuk perbandingan cepat dari strategi bersaing. Sistem ini juga mencakup logika untuk kuantitatif mengukur kemajuan menuju tujuan dinyatakan masing-masing kelompok dan menyediakan pluralitas menampilkan grafis yang menunjukkan masing-masing kelompok, dan seluruh proyek, kemajuan menuju tujuan.
Diuraikan di atas paten karena menyediakan alat untuk koordinasi dan pemantauan kegiatan beberapa kelompok terlibat dalam sebuah proyek. Namun, paten tidak mengungkapkan jenis terstruktur template untuk mengelola proyek TI. Dengan demikian, paten tidak mengidentifikasi cara untuk memperbaiki masalah-masalah tertentu yang disebutkan di atas. Ada kebutuhan untuk menyediakan suatu teknik yang lebih efisien untuk manajemen proyek-proyek IT.

RINGKASAN PENEMUAN
Proses terstruktur untuk mengelola proyek teknologi informasi untuk menghasilkan teknologi informasi (TI) produk meliputi serangkaian langkah-langkah utama, masing-masing yang mencakup satu atau lebih substeps. Langkah-langkah utama yang dapat mencakup: (1) menilai kelayakan proyek untuk menentukan apakah akan melanjutkan dengan proyek; (2) melakukan analisis proyek awal untuk menentukan persyaratan fungsional proyek; (3) merancang produk IT; (4) membangun produk IT; (5) pengujian produk IT; (6) menerapkan produk IT; dan (7) penutupan-out proyek itu, termasuk evaluasi proyek. Untuk maju ke langkah berikutnya berturut-turut, partisipan proyek harus mencari persetujuan dari satu atau lebih agen otorisasi.
Sebuah metode juga disediakan untuk menyediakan, mengakses dan menggunakan proses terstruktur. Metodenya, meliputi memberikan informasi tentang proses terstruktur, termasuk: (1) pertama data mengenai langkah-langkah utama dari proses terstruktur; (2) kedua data mengenai substeps disertakan dalam setiap langkah utama; dan (3) ketiga data mengenai prosedur persetujuan yang dilakukan selama proses untuk mengesahkan kelangsungan hidup dari proyek. Metode ini kemudian termasuk langkah mengakses informasi dan melakukan langkah-langkah utama, substeps, dan persetujuan prosedur yang ditetapkan dalam informasi yang diakses. Metode ini dapat dilaksanakan, misalnya, menggunakan teknologi komputer dengan menyimpan informasi mengenai proses terstruktur dalam database dan menggunakan komputer (atau jaringan komputer) untuk mengakses dan memanfaatkan informasi.
Komputer mungkin termasuk perangkat output (misalnya, layar atau printer) untuk menyajikan informasi tentang status proses terstruktur, termasuk indikasi tingkat penyelesaian setiap langkah utama.

DESKRIPSI SINGKAT DARI GAMBAR
Penemuan ini dapat dipahami lebih lengkap dengan membaca deskripsi rinci berikut patut dicontoh sangat, dalam hubungannya dengan gambar-gambar yang menyertainya, di mana:
Gambar 1A, 1B dan 1C bersama menggambarkan proses terstruktur untuk mengelola proyek TI;


Gambar 2 menunjukkan sistem teladan untuk melaksanakan proses ditampilkan dalam Gambar 1A, 1B dan 1C;


Gambar 3 menggambarkan teladan database untuk menyimpan informasi yang digunakan dalam proses ditampilkan dalam Gambar 1A, 1B dan 1C;

Gambar 4 menunjukkan halaman teladan layar utama untuk menyajikan informasi yang berkaitan dengan langkah-langkah utama dalam proses;

Gambar 5 menunjukkan halaman teladan layar untuk menyajikan informasi yang berkaitan dengan salah satu langkah utama yang tercantum dalam gambar 4; dan

Gambar 6 menunjukkan "termometer" tampilan layar untuk menyajikan ikhtisar dari tingkat proses selesai.


KLAIM
Mereka Mengklaim:
  1. Proses untuk mengelola proyek teknologi informasi untuk mengembangkan produk teknologi informasi, yang terdiri dari langkah-langkah utama: menilai kelayakan proyek dalam langkah utama pertama untuk menentukan apakah akan melanjutkan dengan proyek, dan menghasilkan satu set pertama kiriman; mengirimkan kiriman pertama untuk satu atau lebih otorisasi agen di langkah persetujuan pertama untuk menentukan kelayakan proyek setelah langkah utama pertama; melakukan analisis proyek awal dalam langkah utama kedua untuk menentukan persyaratan fungsional proyek, dan menghasilkan sebuah set kedua kiriman.
  2.  Proses menurut klaim 1; Dimana set pertama diserahkan mencakup satu atau lebih dari kiriman berikut: (a) analisis kelayakan; (b) analisis biaya-manfaat tingkat tinggi; (c) analisis risiko; dan (d) biaya dan jadwal perkiraan untuk langkah pokok kedua. Dimana set kedua kiriman mencakup satu atau lebih dari kiriman berikut: (a) dokumen piagam; (b) analisis biaya-manfaat rinci; (c) jadwal proyek; (d) analisis matriks resiko; (e) proyek kontrol dokumentasi; (f) dokumentasi terkait anggaran; (g) kriteria penerimaan sistem; dan (h) persyaratan rinci dokumentasi,
  3. Proses menurut klaim 1, dimana setidaknya salah satu langkah utama termasuk substeps plural.
  4. Proses menurut klaim 1, lanjut terdiri dari tahap mengakses dan memanfaatkan setidaknya satu alat untuk memberikan bantuan dalam melakukan proyek.
  5. Proses menurut klaim 1, lanjut terdiri dari tahap menyajikan informasi mengenai status proyek, termasuk indikasi tingkat penyelesaian setiap langkah pokok.

Sumber:
https://www.google.co.id/patents/US20020059512?dq=information+technology+project+management&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwihie_ii4vNAhUMlJQKHXRNCk0Q6AEIKzAC

Senin, 09 Mei 2016

Mengapa kita dianjurkan menggunakan software yang Open Source?


Karena software yang didukung oleh open source merupakan sistem yang mendistribusikan perangkat lunak kepada pengguna dengan memberikan program dan source code secara gratis. Tetapi kita juga bisa mengembangkan open source tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita, tentunya kebebasan itu tetap bertumpu pada etika dan peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Open source adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu individu / lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas. Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya, yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak.

Fitur-fitur utama dari karakteristik open source adalah kebebasan user untuk:
1.      Menggunakan software sesuai keinginannya.
2.      Memiliki software yang tersedia sesuai kebutuhan.
3.      Mendistribusikan software kepada user lainnya.

Kebebasan yang tak terbatas bagi tiap orang untuk mengakses kode program merupakan pedang bermata dua bagi software itu sendiri. Hal ini disebabkan karena kebebasan ini memberikan informasi tentang kelemahan software. Kemudian, yang terjadi adalah eksploitasi kelemahannya. Para hacker akan menggunakan kelemahan ini untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan pengguna software tersebut. Akibatnya akan lebih buruk jika software tersebut merupakan software yang vital bagi pengguna karena akan memungkinkan terjadinya penipuan, pencurian identitas, pencurian informasi, dan sebagainya.

Apa manfaat yang kita dapatkan dengan menggunakan Open Source ?
Ada banyak manfaat positif yang bisa kita peroleh dengan menggunakan Open Source, diantaranya:
1.   Kreativitas: Dengan Open Source kita bisa mempelajari cara kerja suatu perangkat lunak, memodifikasinya, bahkan membuat produk baru dari sumber yang ada.
2.   Kemandirian: Kita tidak perlu lagi tergantung pada suatu produk tertentu, bahkan dengan Open Source kita bisa membuat produk yang sekelas dengan perusahaan berskala raksasa seperti Microsoft.
3.   Hemat Waktu: Berapa banyak waktu yang kita sia-siakan untuk berurusan dengan virus komputer di sistem closed source (baca : Windows) ? Dengan menggunakan sistem operasi Open Source seperti 3D OS kita tidak perlu membuang waktu lagi berurusan dengan virus komputer.
4.   Hemat Biaya: Berapa banyak biaya yang perlu kita keluarkan untuk pembelian suatu produk proprietary, seperti Windows, Photoshop, MS Office dan lain-lainnya.
5.   Mengurangi Tingkat Pembajakan: Open Source memungkinkan kita untuk tidak lagi menggunakan milik orang lain secara tidak sah atau dengan kata lain kita tidak perlu lagi menjadi pencuri. Selain mengurangi tingkat pembajakan, secara otomatis dosa-dosa kita juga ikut berkurang.
6.   Meningkatkan Citra Negara: Tahukah Anda bahwa pembajakan menjadikan citra negara menurun ? Dan ini secara tidak langsung membawa akibat buruk pada hubungan dagang dengan luar negeri. Dan repotnya, di tahun 2009 ini Indonesia kembali masuk dalam daftar Priority Watch List.
7.   Banyaknya tenaga (SDM): Untuk mengerjakan proyek, proyek open source biasanya menarik banyak developer, misalnya pengembangan web server Apache menarik ribuan orang untuk ikut mengembangkan dan memantau.
8.   Mencegah kesalahan (bugs atau error): Lebih cepat ditemukan dan diperbaiki, hal ini dikarenakan jumlah developernya sangat banyak dan tidak dibatasi. Visual inspection (eye-balling) merupakan salah satu metodologi pencarian bugs yang paling efektif. Selain itu, source code yang tersedia membuat setiap orang dapat mengusulkan perbaikan tanpa harus menunggu dari vendor.
9.   Kualitas produk lebih terjamin: Hal ini dikarenakan evaluasi dapat dilakukan oleh banyak orang sehingga kualitas produk dapat lebih baik. Namun, hal ini hanya berlaku untuk produk open source yang ramai dikembangkan orang. Tidak selamanya open source dikembangkan oleh banyak orang, karena bisa juga dilakukan oleh individual.

Selain membawa manfaat, tentu saja Open Source juga mempunyai kekurangan, diantaranya:
1.   Kurangnya dukungan vendor: Harus diakui, masih cukup banyak vendor baik Hardware, Software, ataupun game yang belum memberikan dukungan penuh pada Open Source. Dan hal ini tentu saja cukup menghambat perkembangan Open Source.
2.   Kurangnya dukungan support: Karena belum cukup memasyarakat, maka dukungan support juga masih cukup sulit untuk ditemukan. Support untuk Open Source selama ini masih banyak bergantung pada Internet (Google). Sehingga cukup menyulitkan mereka yang tidak mempunyai akses penuh pada Internet.
3.   Kurangnya dukungan bisnis: Pandangan bahwa Open Source adalah gratis dan tidak bisa membawa manfaat bisnis sangat menghambat para pebisnis yang akan terjun di Open Source. Kurangnya dukungan dari pebisnis ini membuat Open Source tidak bisa mempromosikan dirinya secara baik dan ini secara tidak langsung membuat pengenalan Open Source menjadi lebih lambat.
4.   Kurangnya promosi: Masih banyak orang yang beranggapan Open Source susah untuk dipergunakan, padahal perkembangan Open Source belakangan ini sudah cukup pesat dan bahkan dalam beberapa hal terkadang mampu menggungguli produk closed source. Kesalahpahaman ini bisa terjadi karena kurangnya promosi akan Open Source.
5.   Kurangnya SDM: yang dapat memanfaatkan open source, ketersediaan source code yang diberikan dapat menjadi sia-sia, jika SDM yang ada tidak dapat menggunakannya. SDM yang ada ternyata hanya mampu menggunakan produk saja, Jika demikian, maka tidak ada bedanya produk open source dan yang propriertary dan tertutup.
6.   Tidak adanya proteksi terhadap HaKI: kebanyakan orang masih menganggap bahwa open source merupakan aset yang harus dijaga kerahasiannya. Hal ini dikaitkan dengan besarnya usaha yang sudah dikeluarkan untuk membuat produk tersebut. Karena sifatnya dapat diabuse oleh orang-orang untuk mencuri ide dan karya orang lain.
7.   Open Source digunakan secara sharing: dapat menimbulkan resiko kurangnya diferensiasi antara satu software dengan yang lain, apabila kebetulan menggunakan beberapa open Source yang sama.        

Sumber:
http://laisanurin.blogspot.co.id/2014/04/kenapa-anda-dianjurkan-menggunakan.html
http://dikaburn.blogspot.co.id/2015/06/kenapa-anda-dianjurkan-menggunakan.html


Pengalaman Bootcamp SAP Part3

Pada hari ke 22 training tanggal 5 Juli 2017 diadakan ujian tertulis untuk mengetahui sejauh mana peserta bootcamp memahami materi yan...